Setiap remaja akan mengalami pubertas. Pubertas merupakan masa awal pematangan seksual, yakni suatu periode dimana seorang anak mengalami perubahan fisik, hormonal, dan seksual serta mampu mengadakan proses reproduksi.
Pada awal masa pubertas, kadar hormon LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone) akan meningkat, sehingga merangsang pembentukan hormon seksual. Pada remaja putri, peningkatan kadar hormon tersebut menyebabkan pematangan payudara, ovarium, rahim, dan vagina serta dimulainya siklus menstruasi. Di samping itu juga timbulnya ciri-ciri seksual sekunder, misalnya tumbuhnya rambut kemaluan dan rambut ketiak.
Pubertas pada remaja putri umumnya terjadi pada usia 9-16 tahun. Tampaknya usia pubertas dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan gizi, juga faktor sosial-ekonomi dan keturunan. Remaja putri yang gemuk cenderung mengalami siklus menstruasi pertama lebih awal. Sedangkan remaja putri yang kurus dan kekurangan gizi cenderung mengalami siklus menstruasi pertama lebih lambat. Siklus menstruasi pertama juga terjadi lebih awal pada remaja putri yang tinggal di kota.
Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi.
Menstruasi pertama (menarke) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause.
Awal siklus menstruasi dihitung sejak terjadinya perdarahan pada hari ke-1 dan berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Umumnya, siklus menstruasi yang terjadi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari.
Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke dan sesaat sebelum menopause.
Bagi remaja putri, mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur pada masa-masa awal adalah hal yang normal. Mungkin saja remaja putri mengalami jarak antar 2 siklus berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan terjadi 2 siklus. Namun jangan khawatir, setelah beberapa lama siklus menstruasi akan menjadi lebih teratur.
Pengetahuan akan siklus menstruasi yang dialami sangatlah penting bagi remaja putri. Dengan mengetahui pola siklus menstruasi akan membantu dalam memperkirakan siklus menstruasi yang akan datang.
Siklus dan lamanya menstruasi dapat diketahui dengan membuat catatan pada kalender. Tandai setiap hari ke-1 siklus menstruasi yang terjadi setiap bulannya dengan tanda silang, lalu hitung sampai tanda silang berikutnya. Dengan cara ini, Anda dapat mengetahui pola siklus menstruasi pada diri Anda.
Nyeri Haid
Kebanyakan remaja putri sering mengalami kram sewaktu menstruasi. Rasa sakit di perut bagian bawah, kadang meluas ke pinggul, punggung bagian bawah atau paha. Bahkan ada yang merasa mual, muntah, atau diare.
Sedikit kram perut pada hari pertama atau kedua haid yang terjadi merupakan hal yang biasa. Lebih dari separuh perempuan mengalaminya. Namun sekitar 10% perempuan mengalami rasa sakit yang demikian hebat hingga perlu minum obat untuk dapat mengatasi rasa sakit tersebut.
Bila tidak ada kelainan ginekologis, rasa nyeri tersebut disebut dismenorea primer. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar prostaglandin (zat yang membuat otot-otot rahim berkontraksi dan melepaskan dindingnya). Meskipun sakit, dismenorea primer tidak berbahaya. Rasa nyeri ini biasanya lenyap pada pertengahan usia 20-an atau setelah melahirkan.
Rasa nyeri yang disebabkan oleh gangguan ginekologis disebut dismenorea sekunder. Hal ini bisa disebabkan oleh tumor fibroid (suatu tumor jinak pada dinding rahim), penyakit yang ditularkan akibat hubungan seksual, endometriosis, penyakit radang panggul, adanya kista atau tumor pada indung telur.
Untuk mengatasi nyeri haid, Anda dapat meminum obat untuk menghilangkan rasa nyeri. Atau cobalah berendam dengan air hangat. Namun segeralah ke dokter jika nyeri haid menghebat atau disertai demam, merasa mual yang tidak biasa, muntah atau nyeri perut, atau jika tetap nyeri setelah hari ketiga haid.
Menstruasi yang Tidak Teratur
Remaja putri kadang mengalami menstruasi yang tidak teratur. Menstruasi yang tidak teratur ini dapat disebabkan oleh perubahan kadar hormon akibat stres atau sedang dalam keadaan emosi. Di samping itu, perubahan drastis dalam porsi olahraga atau perubahan berat badan yang drastis juga dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur.
Di sinilah pentingnya mengetahui pola siklus menstruasi Anda. Buatlah catatan siklus menstruasi Anda selama 3 bulan. Catat hari pertama menstruasi, pada hari ke berapa darah banyak keluar, kapan menstruasinya berhenti. Catatan ini diperlukan untuk mengevaluasi perubahan menstruasi.
Tidak mengalami Menstruasi
- Kondisi sehat: Stres, mengalami pertambahan atau pengurangan bobot tubuh secara drastis, menjelang atau baru pulih dari sakit, atau menggunakan jenis obat-obatan tertentu yang mengganggu kadar keseimbangan hormon.
- Aktif secara seksual: Hamil.
- Menggunakan pil kontrasepsi: Kandungan estrogen pil terlalu rendah dibandingkan yang dibutuhkan oleh tubuh.
- Pernah menggunakan pil kontrasepsi: Tubuh belum beradaptasi dengan kondisi tanpa tambahan hormon. Segera menghubungi dokter jika telah lebih dari 3 bulan.
- Menggunakan kontrasepsi hormonal selain pil: Dampak umum dari kontrasepsi yang hanya mengandung progestin. Selain mencegah terjadinya ovulasi, progestin juga berdampak mencegah terjadinya menstruasi.
Menstruasi singkat dan volume darah sedikit
- Kondisi sehat: Indung telur tidak melepaskan sel telur matang
- Aktif secara seksual: Awal masa kehamilan, janin menempel pada rahim, kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan) jika disertai rasa nyeri yang sangat berat pada satu sisi perut.
- Menggunakan pil kontrasepsi: Dampak umum penggunaan pil kontrasepsi yang menyebabkan lapisan dinding rahim tidak terbentuk terlalu tebal.
- Menggunakan kontrasepsi hormonal selain pil: Dampak umum kontrasepsi, karena jika siklus menstruasi terjadi secara normal, ovulasi tidak dapat dicegah
Menstruasi yang lama dan volume darah banyak
- Kondisi sehat: Fibroids (pertumbuhan lapisan dinding rahim lunak).
- Aktif secara seksual: Keguguran terlebih lagi jika menstruasi terjadi sangat terlambat dibandingkan siklus disertai kram perut hebat dan potongan-potongan darah beku.
- Pengguna AKDR: Gejala yang umum, akibat kontrasepsi menyebabkan iritasi dinding rahim.
- Menggunakan kontrasepsi hormonal selain pil: Gejala umum penggunaan tambahan hormon ke dalam tubuh.
- Ibu baru: Rahim yang membesar akibat penebalan dinding rahim; pelebaran mulut rahim setelah proses persalinan normal. Kondisi ini biasanya tidak disertai nyeri perut seperti menstruasi pada umumnya.
Bercak darah di antara periode menstruasi
- Kondisi sehat: Stres, infeksi, kista, polip pada serviks, vagina atau rahim
- Pengguna kontrasepsi pil baru: Gejala yang umum saat penambahan hormon ke dalam tubuh; tetapi dapat menjadi indikasi yang perlu diwaspadai bahwa pil tersebut tidak cocok digunakan pada seseorang.
- Menggunakan pil kontrasepsi: Terlambat atau telat mengonsumsi pil
- Menggunakan kontrasepsi hormonal selain pil: Gejala yang normal pada awal penggunaan kontrasepsi
- Penggunaan AKDR: Infeksi lokal atau peradangan yang disebabkan oleh alat kontrasepsi.
- Hamil: Kondisi normal akibat fluktuasi hormon pada trimester pertama kehamilan.
rrd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar